
Oleh:
Supartinah, S.Pd., M.Pd.
(Guru Geografi SMA Negeri 1 Prambanan Klaten)
Belajar Menyenangkan dengan Discovery Learning
Kegiatan belajar mengajar di sekolah saat ini sudah masuk dalam tahapan 100% pembelajaran tatap muka meskipun tetap masih harus menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Dalam kegiatan belajar mengajar mata pelajaran Geografi di SMA Negeri 1 Prambanan kelas XI IPS untuk semester genap dengan materi Dinamika Kependudukan di Indonesia, peserta didik diharapkan untuk bisa memahami materi dengan tuntas. Materi Dinamika Kependudukan membahas tentang kualitas penduduk dan indeks pembangunan manusia, pengolahan dan analisis data serta dampak dinamika penduduk. Dinamika penduduk pada suatu wilayah terjadi disebabkan adanya kelahiran, kematian, dan migrasi sehingga memunculkan permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Permasalahan kependudukan di Indonesia diantaranya adalah tingginya tingkat pertumbuhan penduduk, persebaran penduduk yang tidak merata, tingkat kesehatan yang rendah, pendidikan yang rendah serta tingginya angka kematian. Permasalahan-permasalahan kependudukan tersebut dapat dikaji dan diteliti oleh peserta didik pada saat pembelajaran dengan menggunakan metode discovery learning agar bisa memacu peserta didik untuk lebih aktif dan kreatif sehingga menyampaikan upaya-upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Model pembelajaran yang penulis terapkan untuk melakukan pembelajaran dikelas dengan menggunakan Discovery Learning dengan topik dinamika kependudukan. Tatap muka discovery learning menekankan pada proses pembelajaran yang terpusat pada peserta didik dan pengalaman belajar secara aktif. Dalam proses belajar mengajar, model pembelajaran discovery learning akan membimbing peserta didik untuk menemukan dan mengemukakan gagasannya terkait topik materi yang dipelajari. Penjelasan tersebut senada dengan pendapat Hanafiah (2012, 77) yang menyatakan bahwa model pembelajaran discovery learning merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, dan logis sehingga mereka dapat menemukan sendiri pengetahuan, sikap, dan keterampilan sebagai wujud adanya perubahan perilaku. Berbeda dengan model konvensional, discovery learning atau pembelajaran penemuan lebih berpusat pada peserta didik, bukan guru. Pengalaman langsung dan proses pembelajaran menjadi patokan utama dalam pelaksanaannya. Seperti yang diungkapkan Syah (2017) bahwa model discovery learning merupakan model pembelajaran yang lebih menekankan pada pengalaman langsung siswa dan lebih mengutamakan proses dari pada hasil belajar.
Pembelajaran dengan model discovery learning merupakan pembelajaran yang dapat memberikan rangsangan positif kepada peserta didik untuk belajar dan berusaha dalam menemukan dan mencari solusi dari masalah yang diberikan dimana seorang peserta didik dihadapkan pada suatu permasalahan sehingga dapat mencari cara pemecahan dari masalah tersebut. Langkah-langkah dalam pembelajaran discovery learning antara lain: Stimulus merupakan langkah pertama pada persiapan pemecahan masalah, Indentifikasi masalah memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah yang berkaitan erat dengan bahan pelajaran, Pengumpulan data untuk mengumpulkan informasi yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis, Pengolahan data dilakukan dengan validasi melalui wawancara, observasi kemudian penafsiran berdasarkan pertemuan tersebut, Pembuktian dilakukan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis, Generalisasi untuk menarik kesimpulan dengan bimbingan dari guru, Penutup merupakan proses terakhir untuk mengulas kembali materi yang telah dipelajari bersama-sama antara peserta didik dan guru untuk memberikan koreksi serta rekomendasi dari proses pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Penerapan metode ini dalam mengajar diharapkan mampu meningkatkan ketertarikan peserta didik pada materi yang sedang dipelajari sehingga proses pembelajaran akan terasa menyenangkan. Secara umum, metode discovery learning dibagi menjadi dua jenis, yaitu: Pertama, Free discovery learning yaitu proses pembelajaran yang tidak disertai petunjuk atau arahan, sehingga peserta didik diharapkan memiliki kepekaan terhadap materi yang sedang dipelajari. Kedua, Guided discovery learning yaitu pembelajaran yang melibatkan peran guru sebagai fasilitator untuk menunjang terlaksananya pembelajaran. Langkah-langkah dalam penerapan metode discovery learning antara lain : memberi rangsangan atau stimulus (stimulation), mengidentifikasi masalah (problem statement), proses mengumpulkan data (data collection), proses pengolahan data (data processing), pembuktian (verification) dan penarikan kesimpulan (generalization).
Pada pembelajaran discovery learning guru dan peserta didik dituntut untuk sama-sama aktif dalam proses belajar mengajar agar bisa menciptakan produk pendidikan yang lebih baik. Dalam discovery learning peserta didk dibiasakan untuk mencari secara mandiri pengetahuan yang telah disampaikan. Beberapa manfaat dalam penerapan metode discovery learning diantaranya adalah mampu memperbaiki dan meningkatkan ketrampilan berpikir peserta didik di ranah kognitif, menumbuhkan rasa senang saat berlangsungnya pembelajaran terlebih jika kesimpulan yang diperoleh sesuai, pengetahuan yang diperoleh peserta didik bisa diingat dan dipahami lebih lama, mampu membangkitkan keinginan belajar peserta didik, mampu meningkatkan penalaran peserta didik, serta lebih efektif dalam menstranfer pengetahuan pada peserta didik. Dalam pembelajaran menggunakan discovery learning peserta didik memiliki kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran, peserta didik merasa puas dengan apa yang mereka temukan sendiri dari hasil pembelajrannya, peserta didik belajar menemukan pola dalam situasi konkrit maupun abstrak, peserta didik akan lebih mampu menstranfer pengetahuannya ke berbagai konteks, serta memperoleh ketrampilan dalam menuangkan ide menjadi lebih bermakna.
Kekurangan discovery learnng menurut Hosnan dalam Suherti (2015:60) yang pertama adalah kegagalan mendeteksi masalah dan adanya kesalahpahaman antara guru dengan peserta didik. Yang kedua, tidak semua peserta didik mampu melakukan penemuan, serta tidak berlaku untuk semua topik pelajaran. Tidak semua peserta didik dapat mendapatkan hasil sesuai standar yang diinginkan guru, sehingga seringkali guru mengalami kegagalan dalam mendeteksi siswa yang tidak paham dengan materi pelajaran tersebut. Dengan demikian untuk dapat mengatasi kekurangan meode discovery learning tersebut guru harus membagi sama rata dalam kelompok yang kemampuan lebih dan yang kurang dapat digabung dengan tujuan agar peserta didik yang kemampuannya kurang bisa dibimbing oleh peserta didik yang memiliki kemampuan lebih.
Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa discovery learning adalah strategi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik agar berusaha sendiri dalam mencari, menyelidiki, mengolah dan menemukan konsep pengetahuan baru dalam pemecahan masalah, sehingga peserta didik dapat mengembangkan pengetahuan dan ketrampilannya. Model discovery learning merupakan pembelajaran yang membantu peserta didik untuk mengalami dan menemukan pengetahuannya sendiri sebagai wujud murni dalam proses pendidikan yang memberikan pengalaman yang mengubah perilaku sehingga dapat memaksimalkan potensi diri serta diharapkan dapat meningkatkan prestasi dalam proses pembelajaran.
http://beritadisdik.com/news/kaji/belajar-menyenangkan-dengan-discovery-learning
0 Komentar
Untuk mengirimkan komentar silakan login terlebih dahulu!